Sunday, November 17, 2024

PENETAPAN ATURAN KELAS

KATA PENGANTAR
 
 Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,,,,,
    Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolonganNya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti- nantikan syafa’atnya di akhirat nanti.
    Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehinggan penulis mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas dari mata kuliah Class Room Management PAI dengan judul “Penetapan Aturan Kelas”. Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi.
Demikian, dan apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.
 
 
                                                                            Cirebon, 1 Oktober 2024
                                                                            Tim Penulis

                                                                       
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

    Tata tertib siswa sangat penting sebagai aturan yang harus dipatuhi oleh peserta didik, bahkan setiap kelas dapat membuat tata tertib sendiri untuk kelasnya masing-masing. Tata tertib untuk unit-unit kegiatan di sekolah itu, seperti perpustakaan sekolah, laboratorium, fasilitas olahraga, kantin sekolah dan sebagainya. Tata tertib untuk kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya juga sangat perlu diadakan sebagai aturan yang harus diikuti oleh mereka dengan penuh kesadaran, bukan karena tekanan atau paksaan. Tata tertib sekolah tidak dapat ditentukan oleh kepala sekolah sendiri, atau bahkan oleh kepala dinas pendidikan. Tetapi tata tertib sekolah hendaknya dibuat dari, oleh, dan untuk warga sekolah. Komite sekolah akan lebih baik jika diminta pendapatnya tentang tata tertib sekolah tersebut. Guru dan siswa harus diminta pendapatnya tentang tata tertib tersebut. Tata tertib juga dapat digunakan sebagai petunjuk agar warga sekolah dapat melaksanakan pekerjaan secara baik, bekerja secara tertib, tidak mengganggu kepentingan orang lain, dan berlaku santun. Tata tertib akan lebih membuat rasa senang seseorang jika tidak dibuat dalam kalimat negative. Oleh karena itu, sangat perlu adanya sejumlah kriteria untuk siswa sebagai subjek.[1]
     Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kedua pada tahun 1991, guru diartikan sebagai orang yang pekerjaannya mengajar. Dalam undang-undang guru dan Dosen No14 Tahun 2005 pasal 2, guru dikatakan sebagai tenaga profesional yang mengandung arti bahwa pekerjaan guru hanya dapatdilakukan oleh seseorang yang mempunyai kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik sesuai dengan persyaratan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan
tertentu.[2] Pendidik adalah seseorang yang membantu orang lain dalam menacapai kedewasaan pikiran, hati dan jiwa.[3]
    Dalam lembaga pendidikan Agama islam salah satu yang mengembangkan tingkah laku manusia biar dapat kepribadian yang baik dan tingkah laku yang bisa bersanding dengan manusia lain dalam keadaan yang baik. Sehingga dalam menbangun tingkah laku siswa disekolah dalam mata pelajaran PAI yang membentuk perilaku yang baik dan memberikan nilai-nilai yang positif. Guru Pendidikan Agama Islam hendaknya bisa tingkah laku atau perilaku siswa yang bagus dalam kehidupan masyarakat, dan jug dapat mengamalkan ajaran-ajaran atau nilai-nilai yang bagus untuk negara tercinta.[4] Dari latar belakang di atas, penyusun tertarik untuk sedikit mengupas tentang penetapan aturan kelas.
 
1.2 Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Penetapan Aturan Kelas?
2.    Bagaimana strategi yang tepat untuk menangani pelanggaran terhadap aturan kelas secara konsisten dan edukatif?
3.      Apa saja manfaat aturan kelas?
4.      Apa saja dampak penetapan aturan kelas
 
1.3 Tujuan
1.      Mengetahui definisi dari Penetapan Aturan Kelas.
2.      Mengetahui Strategi yang tepat untuk menangani pelanggaran terhadap aturan kelas.
3.      Mengetahui macam – macam manfaat aturan kelas.
4.      Mengetahui dampak penetapan aturan kelas.
 
 
 
BAB II
PEMBAHASAN
 
2.1 Pengertian Penetapan Aturan Kelas
Penetapan aturan kelas merujuk pada proses atau kebijakan yang digunakan untuk menentukan batasan dan kriteria yang digunakan dalam system klasifikasi, baik dalam konteks pendidikan, ilmu pengetahuan, atau teknologi. Secara umum, ini mencakup identifikasi dan penyusunan kategori atau kelompok tertentu berdasarkan kriteria yang ditetapkan.

    1. Dalam Konteks Pendidikan
Penetapan aturan kelas bisa merujuk pada kebijakan yang digunakan untuk mengelompokkan siswa dalam berbagai kategori atau kelas berdasarkan kemampuan, usia, atau kriteria lainnya. Misalnya, penetapan aturan kelas untuk penempatan siswa dalam kelas tertentu berdasarkan nilai ujian atau tingkat kemampuan akademik.

    2. Dalam konteks teknologi atau ilmu pengetahuan
Penetapan aturan kelas sering digunakan dalam sistem klasifikasi data, seperti dalam machine learning (pembelajaran mesin), di mana data dikelompokkan ke dalam kategori tertentu berdasarkan fitur atau karakteristik tertentu. Dalam hal ini, aturan kelas adalah kriteria yang digunakan untuk memisahkan atau mengelompokkan data.
Definisi lain dari Penetapan aturan kelas yaitu Tata tertib. Ditinjau dari bentuk katanya, tata tertib berasal dari dua kata, yakni tata dan tertib yang mana keduanya memiliki arti tersendiri. Tata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti aturan, sistem, dan susunan, sedangkan tertib artinya teratur dan menurut aturan. Jadi, secara etimologi, tata tertib adalah aturan dalam suatu tata kehidupan yang harus dipatuhi oleh setiap orang. Sementara itu, tata tertib kelas adalah aturan yang sengaja dibuat untuk dipatuhi oleh semua orang yang berada di dalam kelas tersebut, baik guru maupun siswa dan akan dikenakan sanksi bagi yang melanggarnya. Dengan adanya tata tertib di dalam kelas, kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung lebih efisien dan efektif. Siswa juga merasa lebih nyaman untuk mengikuti kegiatan
pembelajaran. Hal ini tentu berbeda dengan kelas yang tidak memiliki tata tertib di dalamnya. Suasana belajar tentu akan terasa tidak nyaman, berantakan, dan siswa pun menjadi tidak disiplin. Akibatnya, tujuan dan capaian pembelajaran akan sulit untuk dicapai. Itulah mengapa, pentingnya memiliki tata tertib kelas.

2.2 Manfaat Aturan Kelas
a) Bagi Guru
·   Memberikan ketentraman di lingkungan kelas sehingga proses belajar mengajar berlangsung dengan lancar.
·     Memudahkan guru dalam memperhatikan kondisi siswa di kelas.
·    Membantu guru dalam membimbing siswa agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
·    Memudahkan guru dalam mendidik siswa akan pentingnya kedisiplinan dan rasa tanggung jawab.
·    Memudahkan proses pembelajaran.
·   Mengurangi gangguan
·    Menciptakan suasana kelas yang positif.
 
b) Bagi Siswa
·    Membuat siswa merasa lebih nyaman, tenang, aman, dan tentram selama belajar di dalam kelas.
·    Tata tertib menjadikan suasana belajar lebih terkendali sehingga memudahkan siswa untuk memahami pelajaran.
·   Melatihsiswa untuk menjadi pribadi yang disiplin dan bertanggung jawab.
·   Membantu siswa memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, serta konsekuensi jika melanggar aturan yang telahdibuat.
·         Meningkatkan disiplin diri.
·         Kemampuan bersosialisasi.
·         Kepercayaan diri.
·         Prestasi akademik.
 
c) Bagi Sekolah
·         Meningkatkan reputasi sekolah.
·         Menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.
·         Mendukung pencapaian tujuan pendidikan.

2.3 Strategi Penerapan Aturan Kelas
Libatkan siswa dalam pembuatan aturan: Diskusi kelompok, brainwriting, voting. Buat kontrak kelas: Tuliskan aturan yang telah disepakati bersama dan tandatangani.Jelaskan alasan di balik setiap aturan: Hubungkan dengan tujuan pembelajaran dan berikan contoh.Terapkan konsekuensi yang jelas: Buat kesepakatan bersama dan terapkan secara konsisten. Berikan pengakuan atas perilaku positif: Puji secara spesifik dan berikan hadiah kecil.Evaluasi secara berkala: Lakukan refleksi dan revisi jika perlu. Strategi Penerapan Aturan Kelas yang Efektif :
 
    1. Penerapan Aturan Kelas
Model yang Baik: Guru menjadi contoh langsung dengan selalu mematuhi aturan yang telah disepakati. Rutin yang Konsisten: Jadwal yang jelas dan konsisten membantu siswa memprediksi kegiatan dan mengurangi kebingungan. Isyarat Non-Verbal: Gunakan isyarat seperti tatapan mata, gerakan tangan, atau kartu sinyal untuk mengingatkan siswa tanpa mengganggu proses belajar. Rotasi Tugas: Berikan kesempatan kepada siswa untuk mengambil peran dalam mengelola kelas, seperti menjadi ketua kelas, penjaga waktu, atau pengumpul tugas. Lingkungan Belajar Positif: Ciptakan suasana kelas yang menyenangkan dan inklusif untuk mendorong partisipasi aktif siswa.
 
    2. Komunikasi Aturan
Bahasa Sederhana: Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh siswa, hindari istilah-istilah yang terlalu teknis. Visualisasi: Buat poster atau gambar yang menarik untuk menggambarkan aturan kelas. Diskusi Terbuka: Ajak siswa untuk berdiskusi tentang aturan, memberikan masukan, dan mengajukan pertanyaan. Ulangi Secara Berkala: Ulangi aturan secara berkala, terutama di awal tahun ajaran atau setelah liburan. Libatkan Orang Tua: Libatkan orang tua dalam sosialisasi aturan kelas untuk mendapatkan dukungan dan pemahaman yang sama.

    3. Penegakan Aturan
Pendekatan Positif: Fokus pada penguatan perilaku positif daripada hanya menghukum perilaku negatif. Konsistensi: Terapkan konsekuensi secara
konsisten setiap kali ada pelanggaran. Pribadi: Bicarakan masalah perilaku secara pribadi dengan siswa yang melanggar aturan. Libatkan Orang Tua: Jika diperlukan, libatkan orang tua siswa dalam upaya memperbaiki perilaku anak. Evaluasi Berkala: Lakukan evaluasi secara berkala untuk melihat apakah aturan yang ada masih relevan dan efektif.
 
2.4 Dampak Penetapan Aturan Kelas
Penerapan aturan kelas yang efektif memiliki dampak yang signifikan terhadap proses pembelajaran dan perkembangan siswa. Berikut adalah beberapa dampak positifnya:
    a. Terhadap Proses Pembelajaran
· Meningkatkan Konsentrasi: Aturan yang jelas menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, sehingga siswa dapat lebih fokus pada materi pelajaran.
· Meningkatkan Efisiensi Waktu: Dengan adanya aturan, waktu pembelajaran dapat digunakan secara optimal karena tidak terbuang untuk mengatasi masalah disiplin.
· Memudahkan Interaksi: Aturan yang jelas mengatur interaksi antara siswa dan guru, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih efektif.
· Menciptakan Suasana Belajar yang Positif: Aturan yang dibuat bersama dan diterapkan secara konsisten menciptakan suasana kelas yang menyenangkan dan mendukung.

    b. Terhadap Perkembangan Siswa
·         Meningkatkan Disiplin Diri: Aturan kelas membantu siswa belajar disiplin diri, bertanggung jawab, dan menghargai hak orang lain.
·         Meningkatkan Kemampuan Bersosialisasi: Melalui diskusi dan kesepakatan bersama dalam membuat aturan, siswa belajar berinteraksi dengan teman sebaya dan menghargai perbedaan pendapat.
·         Meningkatkan Kepercayaan Diri: Ketika siswa merasa aman dan nyaman di kelas, mereka akan lebih berani untuk bertanya dan berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran
·         Membentuk Karakter: Penerapan aturan kelas secara konsisten membantu membentuk karakter siswa yang baik, seperti jujur, bertanggung jawab, dan peduli.

BAB III
PENUTUP
 
3.1 Kesimpulan
Penerapan peraturan kelas merupakan langkah strategis yang krusial dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, efektif, dan menyenangkan. Melalui penetapan dan penerapan aturan yang jelas, konsisten, dan melibatkan siswa, berbagai manfaat dapat diperoleh, baik bagi siswa maupun guru.

DAFTAR PUSTAKA
 
Ali Sulaiman, Anak Berbakat (Jakarta : Gema Insan Press, 2001), hlm.22
Herman Zaini dan Muhtarom, Kompetensi Guru PAI, (Palembang: Noer Fikri, 2015), hlm. 55-56
Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2007), hlm. 2
[1] Ali Sulaiman, Anak Berbakat (Jakarta : Gema Insan Press, 2001), hlm.22
[2] Herman Zaini dan Muhtarom, Kompetensi Guru Pai, (Palembang: Noer Fikri, 2015), hlm. 55-56
[3] Ibid., hlm. 53
[4] Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2007), hlm. 2 

 


Tuesday, October 29, 2024

MAKALAH MODEL PEMBELAJARAN IPS

 

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Model Pembelajaran IPS”.

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini tidak lepas dari bimbingan, bantuan dan saran dari segala pihak, untuk itu dalam kesempatan kali ini penulis mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada para pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.

Penulis berharap, semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.

 


Kutacane,
29 October 2024

Pemakalah,

 


 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR.. i

DAFTAR ISI. ii

BAB I PENDAHULUAN.. 1

A.   Latar Belakang Masalah. 1

B.    Rumusan Masalah. 1

C.    Tujuan Penulisan. 1

BAB II PEMBAHASAN.. 2

A.   Pengertian Model Pembelajaran IPS. 2

B.    Unsur-unsur Model Pembelajaran IPS. 3

1.     Model Pencapaian Konsep. 3

2.     Model berpikir Induktif (Induktive Thinking) 3

3.     Model Memorisasi (Memorization) 4

4.     Model Inkuiri Sosial 5

BAB III PENUTUP. 6

A.   Kesimpulan. 6

B.    Saran. 6

DAFTAR PUSTAKA.. 8

  


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Pendidikan IPS sudah lama dikembangkan dan dilaksanakan dalam kurikulum-kurikulum di Indonesia. Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah salah satu mata pelajaran yang berusaha membekali wawasan dan keterampilan peserta didik sekolah untuk mampu beradaptasi dan bermasyarakat serta menyesuaikan dengan perkembangan dalam era globalisasi. Melalui mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, peserta didik diarahkan, dibimbing, dan dibantu untuk menjadi warga Negara Indonesia yang baik dan warga dunia yang efektif.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut perlu dikembangkan model pembelajaran yang kondusif dan menggairahkan peserta didik agar bersemangat dalam mengikuti proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di sekolah. Salah satu kemampuan dasar yang harus dikuasai guru adalah keterampilan mengembangkan model pembelajaran, yaitu keterampilan yang berhubungan dengan upaya untuk mengembangkan model pembelajaran di kelas yang dapat memotivasi dan menggairahkan belajar peserta didik.

Dalam Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang standar isi; (2) pengetahuan pedagogic (pedagogical knowlegde) yang bisa  dilihat dalam Permendiknas Nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru; dan (3) Keterampilan mengajar (teaching skills).

B.     Rumusan Masalah

              1.      Apa itu pembelajaran IPS?

             2.      Bagaimana Model Pembelajaran IPS ?

C.    Tujuan Penulisan

             1.      Agar mengetahui Apa itu pembelajaran IPS.

             2.      Agar mengetahui Model Pembelajaran IPS.


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Pengertian Model Pembelajaran IPS

Model dapat diartikan sebagai suatu konsep atau objek yang dapat digunakan untuk mempresentasikan suatu hal. Sesuatu yang nyata dan dikonversi untuk sebuah bentuk yaang lebih komprehensif.   Jadi, model merupakan kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan.

Menurut Adi dalam bukunya yang berjudul Strategi Pembelajaran, model pembelajaran ialah suatu kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur dalam mengorganisasikan pengalaman pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran berfungsi sebagai pedoman bagi guru dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran.

Dalam kaitannya dengan pembelajaran IPS, model merupakan suatu upaya untuk mempengaruhi perilaku peserta didik menuju perubahan yang lebih baik. Pengembangan berbagai ragam model pembelajaran IPS, dimaksudkan untuk membantu guru dalam meningkatkan kemampuannya untuk lebih mengenal peserta didik dan menciptakan lingkungan yang lebih bervariasi bagi kepentingan belajar. peserta didik.[1]

Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa model pembelajaran IPS adalah suatu cara atau pedoman bagi seorang guru ataupun perangcang pembelajaran untuk dapat merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran serta sebagai upaya untuk mempengaruhi perilaku peserta didiknya menuju perubahan yang lebih baik. Dimana dengan menggunakan model pembelajaran dapat membantu seorang guru untuk meningkatkan kemampuannya dalam mengenal peserta didiknya dan menciptakan lingkungan belajar yang bervariasi bagi peserta didik.

B.     Unsur-unsur Model Pembelajaran IPS

Model-model pembelajaran IPS yaitu sebagai berikut:

         1. Model Pencapaian Konsep

Model pencapaian konsep ini dikembangkan oleh Jerome S.Bruner, Jacqueline Goodrow dan George Agustin berdasarka hasil studinya mengenai berpikir manusia. Model ini sengaja dirancang untuk memantu peserta didik dalam mempelajari konsep-konsep yang dapat dipakai untuk mengorganisasikan nya sehingga dapat memberikan kemudahan bagi peserta didik dalam mempelajari konsep tersebut secara efisien.

  2. Model berpikir Induktif (Induktive Thinking)

Model berpikir induktif merupakan model pembelajaran yang bertujuan untuk mendorong peserta didik dalam menemukan dan mengorganisasikan informasi sehingga peserta didik dapat aktif dan memperoleh pengalaman belajar yang bermakna sehingga hasil belajar yang di peroleh peserta didik akan meningkat dan bertahan lama. Sedangkan peran guru dalam model pembelajaran berpikir induktif adalah mengawasi proses siswa dalam mencari informasi/ konsep, membimbing siswa melalui pertanyaa-pertanyaan yang relevan dan membuat perangkat pembelajaran yang memungkinkan siswa melakukan tugas kognitif dan psikomotorik dalam pembelajaran dengan tepat.[2]

3.   Model Investigasi Kelompok (Group Investigation)

Metode Pembelajaran Investigasi Kelompok (PIK) untuk meningkatkan kecakapan sosial berlandaskan teori sosiokultural Vygotsky tentang pembelajaran sosial, Zone of Proximal Development (ZPD) dan Scaffollding. Teori ini memandang bahwa setiap individu dapat mencapai kemampuan potensialnya setelah mendapat bantuan dengan individu lain melalui proses pembelajaran yang interaktif dalam konteks sosial.

      4. Model Memorisasi (Memorization)

Model ini dikembangkan oleh Pressley dan Levin. Memorisasi adalah model yang digunakan untuk menghafalkan sesuatu informasi. Guru dapat menggunakan model memorisasi untuk membimbing penyampaian materi yang bertujuan agar para siswa dapat dengan mudah menangkap dan mengingat informasi baru, karena model memorisasi ini diarahkan untuk mengembangkan kemampuan siswa menyerap dan mengintegrasikan informasi sehingga siswa-siswa dapat mengingat informasi yang telah diterima dan dapat diingat kembali pada saat diperlukan.[3]

5.   Model Bermain Peran (Role Playing)

Model pembelajaran bermain peran (role playing) merupakan salah satu model pembelajaran sosial, yaitu suatu model pembelajaran dengan menugaskan siswa untuk memerankan suatu tokoh yang ada dalam materi atau peristiwa yang diungkapkan dalam bentuk  cerita sederhana. Model pembelajaran bermain peran (role playing) dipelopori oleh George Shaftel dengan asumsi bahwa bermain peran dapat mendorong siswa dalam mengekspresikan perasaan serta mengarahkan pada kesadaran melalui keterlibatan spontan yang disertai analisis pada situasi permasalahan kehidupan nyata.

6.   Model Penelaahan Yurisprudensi

Menurut Hamzah B. Uno mengemukakan bahwa “Model pembelajaran telaah yurisprudensi dapat melatih peserta didik untuk peka terhadap permasalahan sosial, mengambil posisi (sikap) terhadap permasalahan tersebut, serta mempertahankan sikap tersebut dengan argumentasi yang relevan dan valid”.  Mereka dituntut merumuskan tentang isu tersebut sebagai pertanyaan kebijakan masyarakat dan menganalisis posisial ternatif.

      7. Model Inkuiri Sosial

Sanjaya menyatakan bahwa, dalam pendekatan inkuiri pembelajaran menjadi lebih berpusat pada anak, proses belajar melalui inkuiri dapat membentuk dan mengembangkan konsep diri pada diri siswa, tingkat pengharapan bertambah, pendekatan inkuiri dapat mengembangkan bakat, pendekatan inkuiri dapat menghindari siswa dari cara-cara belajar dengan menghafal, dan pendekatan inkuiri memberikan waktu pada siswa untuk mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.[4]


 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Model pembelajaran diartikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam pengorganisasian pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Model pembelajaran berfungsi sebagai pedoman untuk para perancang pembelajaran dan para pendidik dalam merencanakan atau melaksanakan aktivitas pembelajaran. Model pembelajaran yang sesuai dengan model pembelajaran IPS adalah model pembelajaran yang berlandaskan pendekatan paradigma konstruktivisme yaitu pembelajaran yang berdasarkan pada partisipasi aktif peserta didik dalam memecahkan masalah dan berpikir kritis.

Model-model pembelajaran IPS berlandaskan paradigm konstruktivisme diantaranya yaitu:

1.         Model pencapaian konsep.

2.         Model berfikir induktif (Induktive Thinking).

3.         Model investigasi kelompok (Group Investigation).

4.         Model Memorisasi (Memorization).

5.         Model bermain peran (Role Playing).

6.         Model penelaah yurisprudensi, dan

7.         Model inkuiri sosial.

 

B.     Saran

Sebagai calon tenaga pendidik terutama bagi guru pemula maka akan dibuat bingung mengenai strategi dan model pembelajaran efektif untuk dipakai peserta didik. Maka dari itu tugas seorang guru harus mempunyai keterampilan dalam memilih model pembelajaran yang tepat bagi peserta didik. sehingga proses belajar mengajar akan lebih menarik dan siswa belajar akan lebih antusias, tidak merasa bosan dan mampu mengubah persepsi siswa terhadap mata pelajaran IPS akan lebih positif dan akan lebih menyenangkan karena minat merupakan modal utama untuk keberhasilan pembelajaran IPS.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aunurrahman, Belajar dan Pembelajaran, (Bandung : Alfabeta, 2009), hal 159.

Eka Yusnaldi, Potret Baru Pembelajaran IPS, (Medan : Perdana Publishing, 2019), hal. 96.

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Prenada Media Group, 2006), hal. 210.

Winahyu A Wicaksono, Penerapan Model Berpikir Induktif dengan Media Grafis Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS pada Siswa Kelas III Negeri 04 Ngringo, Jurnal kalam Pendidikan PGSD Kebumen, Volume 4, No. 5.1, hal.194-195.

 

 



[1] Eka Yusnaldi, Potret Baru Pembelajaran IPS, (Medan : Perdana Publishing, 2019), hal. 96.

[2] Winahyu A Wicaksono, Penerapan Model Berpikir Induktif dengan Media Grafis Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS pada Siswa Kelas III Negeri 04 Ngringo, Jurnal kalam Pendidikan PGSD Kebumen, Volume 4, No. 5.1, hal.194-195.

[3] Aunurrahman, Belajar dan Pembelajaran, (Bandung : Alfabeta, 2009), hal 159.

[4] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Prenada Media Group, 2006), hal. 210.